Operasi PETI Geumpang Dipertanyakan Warga, Dari Pembakaran Peralatan Rakyat hingga Dugaan Setoran Puluhan Juta untuk Setiap Alat Berat

ZOOM NEWS

- Redaksi

Senin, 28 September 2026 - 01:42 WIB

508 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIDIE – Gelombang penertiban tambang emas ilegal atau PETI di Geumpang, Kabupaten Pidie, Aceh, yang berlangsung Jumat (19/9), kini menimbulkan pertanyaan tajam dari masyarakat dan kalangan pemantau kebijakan. Aksi pembongkaran tenda dan pembakaran peralatan penambang rakyat yang dilakukan aparat kembali memunculkan sorotan klasik: mengapa hukum selalu tampak tajam ke bawah dan tumpul ke atas?

Warga Geumpang mengaku geram dan pesimistis melihat jalannya operasi penertiban. “Sudah berkali-kali aparat turun, tenda milik kami habis dibakar, alat sederhana disita. Tapi alat berat milik pemodal besar, tenda dan alat-alat kelompok dari luar, tetap mulus. Tidak pernah disentuh. Sampai kapan rakyat kecil yang dikorbankan?” ungkapnya penuh kecewa. Sumber dari kalangan tokoh masyarakat menegaskan, diskriminasi perlakuan oleh aparat sudah menjadi rahasia umum dan terang-terangan dipertanyakan warga.

Dugaan kuat adanya praktik setoran dari setiap alat berat yang beroperasi pun menguatkan kecurigaan tersebut. Nilai setoran per unit alat berat disebut-sebut mencapai puluhan juta rupiah setiap bulan—mengalir kepada para oknum di lapangan hingga ke tingkat pejabat daerah. Dengan lebih dari seratus unit ekskavator beroperasi, miliaran rupiah berputar tanpa transparansi dan pengawasan negara. “Tanpa perlindungan oknum, tidak mungkin alat sebanyak itu dan distribusi logistik bisa lancar masuk ke tengah hutan Geumpang,” ujar seorang pegiat lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kritik tak hanya soal aktor tambang dan penguasa alat berat. Persoalan lain yang sangat disoroti adalah keberadaan SPBU pengadaan BBM khusus alat berat yang selama ini menjadi tumpuan operasional jaringan tambang skala besar. “Jalur distribusi solar industri untuk alat berat tidak pernah diperiksa serius oleh aparat. Kalau benar penegakan hukum dijalankan, kenapa distribusi BBM ke alat-alat milik pemain besar dibiarkan?” ujar seorang warga yang mengikuti aksi penertiban. Masyarakat menilai, tanpa pengawasan nyata terhadap aliran BBM alat berat, penertiban apapun hanya formalitas sementara.

Lebih jauh, isu paling sensitif pun kembali diangkat: dugaan keberadaan jaringan penadah emas ilegal yang selama ini leluasa menerima hasil tambang dari pemodal besar hingga kelompok penambang lokal. Operasi “bawah tanah” para penadah emas ilegal, menurut warga, sudah berlangsung lama tanpa halangan berarti dari penegak hukum. Aktivitas pembelian emas mentah hasil PETI berlangsung secara terang-terangan, namun pemilik modal besar dan jaringan kolektor emas jarang tersentuh proses hukum. “Kalau benar aparat ingin menuntaskan tambang ilegal, seharusnya juga membongkar penadah emas di kota. Bisnis penadah emas tak pernah disentuh, padahal mereka yang menggerakkan seluruh putaran modal gelap, menampung hasil tambang, dan menjual ke luar daerah,” tegas seorang pedagang yang resah dengan persaingan tidak sehat akibat emas ilegal.

Keresahan juga datang dari kelompok petani dan pemerhati lingkungan yang kini menghadapi dampak nyata kerusakan alam. Sungai-sungai menjadi keruh, sawah gagal panen, air bersih langka—sementara kelompok besar tetap beroperasi nyaris tanpa hambatan. Laporan kerusakan lingkungan pun berulang kali mandek di meja administrasi tanpa pernah membongkar keterlibatan pemodal utama, penadah emas besar, ataupun pejabat yang diduga jadi beking.

Desakan kepada Pemerintah Aceh, Mabes Polri, dan seluruh penegak hukum agar menindak tegas hingga ke akar menjadi semakin keras. Publik menuntut sapu bersih terhadap seluruh rantai bisnis PETI, mulai dari pemodal utama, pengendali alat berat, jaringan distribusi BBM ilegal, hingga penadah emas di hulu kota, serta siapa saja yang terlibat dalam praktik pelindungan jaringan tambang liar.

Jika pemerintah dan aparat penegak hukum tidak mampu menindak dengan adil, masyarakat Geumpang dan publik Aceh khawatir akan terus menjadi saksi kegagalan negara, di mana kekayaan alam terus dirampas oleh kelompok bermodal kuat dan jaringan penadah emas, sementara rakyat kecil dan lingkungan hidup hanya menyisakan luka serta kehilangan tanah warisan. Negara kini kembali diuji, mampukah benar-benar menegakkan hukum dan keadilan secara utuh, tanpa kompromi dan tanpa formalitas semu.

Berita Terkait

Kongkalikong Setoran Alat Berat Jadi Polemik Geumpang, Penertiban Diminta Menyasar Pemodal Bukan Hanya Pekerja
Keadilan Tambang di Pulo Loih Dipertanyakan: Alat Rakyat Ditertibkan, Dugaan Setoran dan Aktivitas Tambang Cina Disorot
Ultimatum 23 Juli 2026 Tak Menghentikan Tambang, 133 Alat Berat Disebut Kembali Menggerus Geumpang
515 Tahun Pidie Dirayakan, Alue Pigoe Berduka: Jangan Sampai Pesta Menenggelamkan Tangis Rakyat
Dari Geumpang Pidie, Polemik PETI Kembali Mengemuka, Warganet Pertanyakan Penertiban dan Dugaan Aliran Uang Tambang
Tambang Ilegal Geumpang Kembali Memantik Pertanyaan, Wakil Bupati Disinggung Warganet, Aparat Didesak Bongkar Rantai PETI
Ekskavator Menggempur Geumpang Pidie, Tambang Emas Ilegal Diduga Kian Sistematis, LLA Akan Laporkan Dugaan Jaringan ke Polda Aceh
Air Raksa dan Lubang Tambang Emas Ilegal Jadi Sorotan, APW Desak Pemerintah Pusat Turun ke Geumpang

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Satresnarkoba Polres Aceh Tenggara Amankan Seorang Perempuan dengan 34 Paket Sabu

Rabu, 21 Oktober 2026 - 15:13 WIB

Warga Aceh Tenggara Resah, Oknum Satgas TNGL Diduga Intimidasi Petani Sawit dan Ancam Penumbangan Massal

Rabu, 21 Oktober 2026 - 13:36 WIB

Polisi Bersama Masyarakat: Polsek Babussalam Sosialisasikan Bahaya Karhutla, Warga Diimbau Tidak Membakar Sisa Panen

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:57 WIB

Kapolres Aceh Tenggara diwakili oleh Wakapolres Bersama Forkopimda Hadiri Pelantikan Pengurus Cabang PGRI Periode 2024–2029

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:13 WIB

Sabu 2,52 Gram Jadi Barang Bukti, Satresnarkoba Polres Agara Amankan Pria di Bambel

Senin, 19 Oktober 2026 - 19:23 WIB

Lewat Program POLIDIK, Kapolres Aceh Tenggara Tanamkan Kesadaran Keselamatan Berlalu Lintas kepada Pelajar

Senin, 19 Oktober 2026 - 10:50 WIB

Kapolres Aceh Tenggara Hadiri Kegiatan Minggu Kasih di HKBP Pulonas, Ajak Jemaat Jaga Kamtibmas

Minggu, 18 Oktober 2026 - 20:46 WIB

GERAK CEPAT SATRESNARKOBA POLRES ACEH TENGGARA, SEORANG PRIA DIAMANKAN BERSAMA BARANG BUKTI NARKOTIKA JENIS GANJA

Berita Terbaru

Uncategorized

LPM Kota Pekanbaru Bagikan 5000 Masker untuk Warga Terdampak Asap

Jumat, 23 Okt 2026 - 18:38 WIB

GAYO LUES

Donor Darah Dalam Rangka Menyambut Hut Korps Brimob Polri Ke-81

Jumat, 23 Okt 2026 - 17:24 WIB

GAYO LUES

Pembangunan Gorong-gorong Titik 1 Siap 90 Persen

Jumat, 23 Okt 2026 - 13:02 WIB